tidak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh . untuk dapat menikmati halaman ini saja , saya sudah sangat bersyukur .
Rabu, September 1
#1 WILL NOT BE MISSED !!! Hello Stranger
Minggu, Agustus 22
re-konfirmasi pengiriman tugas
- hardiyanto 2007470070 tugas praktikum
- ranggi cahyana mariandani 2007 47 0099 ujian + tugas
- purnama sidhi 2007470096 tugas praktikum
- agus sunardi tugas praktikum
- husodo margo cahyono 2007 47 0076 tugas prakt + ujian
- surya atmaja 2007470105 tugas prakt + test prakt
- rahmatulloh 2007470098 tugas prakt
- syaipudin 2007470106 tugas prakt
- rianita 20074700100 tugas prakt
- mulyadi 2007 47 0094 tugas prakt
- idham cholik 2007 470 056 tugas prakt + ujian
Minggu, Agustus 15
ujian susulan [lagi] basdat
- unduh file soal pada link dalam posting ini
- kerjakan satu tipe soal [konfirmasi tipe soal ke nomer yang ada dalam file soal]
- jawaban dalam bentuk *.doc/*.docx disertai dengan command yang digunakan dan hasil tabel yang di printscreen
- kirim ke vuzan_zhu@yahoo.com sebelum pukul 22.00 tanggal 21 august
- tidak ada pengumpulan tugas/ujian susulan lagi setelah tagl 21
Minggu, Januari 24
Kamis, Agustus 27
PEOPLE CHANGE (unnecessarily)
on Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker
Kuliah di tempat yang sama sekali berbeda ini membuat mereka jarang kumpul bocah lagi. Walaupun sekarang sudah ada wall facebook tapi tetap saja, kalu tidak kopi darat rasanya kurang sreg.
Setelah sekian lama tidak bertemu, banyak sekali cerita yang diperdengarkan ketika mereka bertemu di rumah Onci. Walaupun tanpa si Dayat yang tidak ada kabarnya. Entah ada angin apa, Onci mengajak Pandi untuk makan di luar saja, bukan di rumanya dengan santapan khas Ibu Onci yang selalu mantap. There should be something.
Di bawah dentuman rintik hujan dan gemuruh suara motor pinggir jalan. Onci bercerita tentang kehidupan Dayat yang sekarang.
Kali ini Pandi yang bodoh itu akhrinya mengerti, apa yang selalu ayah mamanya bilang. Hati-hati dengan pergaulanmu. Yang awalnya Pandi menganggap itu hanya sekedar wejangan paling standar. Tapi kini. Setelah terkuak kisah teman dekatnya sendiri, Pandi yakin bahwa memang. It’s obviously occurring right in front of his glasses.
Jumat, Agustus 14
bilang saja 'TIDAK !!!'
written by: fauzanFADLI
Kenapa ya semua yang ada di bumi Allah ini menjadi sangat menyebalkan ketika hal yang juga paling menyebalkan itu terjadi?
Hadi tahu statementnya yang barusan itu kurang baik, kurang baik untuk seorang muslim yang seharusnya selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan. Tapi entahlah, memang itu yang ada dan terlintas di otak seorang remaja di umurnya yang menuju dua puluh tahun itu.
Situasi yang hanya diketahuinya sendiri, sebuah keadaan dimana bumi terasa berhenti berputar dan begitu menyebalkan di matanya. Ketika seorang Hadi harus masuk ke dalam kelas dan mendengar sang dosen meracau dengan dahsyat tepat di hadapannya. Belum ada hal yang bisa menghilangkan rasa itu, atau paling tidak mengurangi kebenciannya terhadap apa yang seharusnya Hadi hadapi untuk empat tahun ke depan; tidak juga dengan nilai-nilai bagus yang didapatnya dari dosen-dosen yang mulia itu.
Kemudian di saat menikmati detik-detik persenggemaannya dengan bergurau dan terbahak-bahak dengan teman-temannya adalah sebuah penawar. Penawar yang mengapa hanya datang sesekali dan terasa begitu singkat. Mungkin inilah yang semua orang di bumi ini rasakan, ketika mendapatkan apa yang klik dengan diri mereka, rasa itu mudah saja menguap dan kabur dari pandangan. Indahnya keadilan Allah.
Tulisan ini dibuat sebagai representasi seseorang yang tidak tahu pasti apa yang bisa dilakukannya. Seorang Hadi Atmawijaya, lelaki keturunan jawa-betawi.
Lahir dan besar di ibu kota yang kian ruwet ini, tidak sedikitpun membuat Hadi berbangga hati. Tidak juga bersedih hati. Karena, belum ada sebersit pikiran pun bagi Hadi untuk pergi dan menetap di kota lain di Indonesia atau dimana pun. Atau mungkin sampai someday ada kesempatan bagi Hadi untuk melakukannya. Bukan saja Hadi yang berpikir tentang ini, bahkan orang-orang kampung pun banyak yang sependapat dengannya. Lihat saja betapa banyak urban yang merantau dan mencoba bersetubuh dengan jahatnya kota ini pikirnya. Belum lagi kasus-kasus terorisme yang menjadikan Jakarta sebagai sarana rekreasi para teroris pengecut itu. Cuih!
Dengan usia yang hampir dua puluh, tapi secara matematis, Hadi masih dikategorikan sebagai teenager. Sosok Hadi yang biasa saja, begitu usual, sebiasa layaknya mahasiswa di Jakarta dan asli orang Jakarta yang berasal dari kalangan menengah ke bawah tentunya. Stelan kaos dan jeans atau sesekali menyematkan kemeja lengan panjang dan tas slempang kusut di tubuhnya. Begitu saja. Tolong jangan bayangkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang Anda biasa lihat di sinetron-sinetron; bukan yang seperti itu pastinya. Walaupun dengan tampang standard, sejak sekolah menengah dulu, bahkan sejak sekolah dasar, ada saja cewe-cewe yang terpesona dengannya. Entah dilihat dari sudut mana. Baiklah, untuk ukuran orang Jakarta umumnya, memang, Hadi CUKUP menarik perhatian. Farily attractive.
Untuk ukuran mahasiswa ‘biasa’, sebenarnya Hadi bukanlah tipe mahasiswa biasa. Hadi ikut beberapa organisasi, juga aktif di dalam kelas (dalam beberapa mata kuliah saja), bahkan cukup berprestasi. Tidak pernah Hadi lulus sebuah lembaga pendidikan tanpa meninggalkan apa yang biasa disebut dengan piagam. Selalu saja ada yang diperolehnya sejak sekolah dasar dulu, sampai saat ini. Hadi juga senang mangatur dirinya sendiri, sedikit apatis dengan dunia sekitarnya, namun itulah yang membuatnya survive menurut pemahaman dirinya sendiri.
Dengan prolog yang cukup detil itu, saya rasa sudah cukup terdeskripsikan bagaimana sebenarnya sosok seorang Hadi Atmawijaya.
Mengalami situasi yang tidak menyenangkan seperti itu dan untuk waktu yang lama adalah siksaan batin bagi Hadi yang selalu bergejolak. Selalu, setiap kali dirinya dipaksa harus berangkat dan menghadiri kuliah. Bagaimana tidak? Apa yang dipelajarinya sekarang bukanlah apa yang Hadi sukai sama sekali. Kalau ada istilah ‘do what you love to do’ merupakan istilah yang mungkin paling menusuk baginya. Mengambil program studi kedokteran umum yang rumit, sulit, menyebalkan, mahal dan bertele-tele serta yang paling penting adalah YANG TIDAK DISUKAINYA. Adalah keputusan yang diambilnya untuk memenuhi apa yang diketahui Hadi sebagai ‘bakti kepada kedua orang tua’.
Untuk dapat berbakti kepada kedua orang tuanya, Hadi masuk dan berkuliah di fakultas kedokteran. Fakultas orang-orang kaya, fakultas di mana 90% anak-anak kecil di seluruh dunia mencita-citakannya. Tidak begitu adanya dengan Hadi. Jelas sekali tidak. Hadi sadar, menjadi seorang dokter memang terdengar sangat menggairahkan, tapi ia tahu, itu bukanlah dirinya, bukanlah apa yang diinginkannya. Sama sekali.
Walau bagaimanapun, ini adalah tahun kedua untuk Hadi. Semester empat di fakultas kedokteran pilihan ayahnya. Sudah sangat terlambat untuk menyesali apa yang seharusnya sejak dulu ia rasakan. Sekarang bukanlah waktunya untuk berdiam diri dan memandang apa yang ada di luar sana dari balik gorden jendela. Sekarang saatnya untuk membahagiakan mereka. Kedua orang tua Hadi. Itulah yang menjadi satu-satunya semangat Hadi untuk datang, belajar, dan kuliah.
Sekarang tinggal itulah yang harus dilakukannya. Tidak ada lagi. Menyelesaikan sarjana kedokteran umum yang terpaksa diambilnya, sekaligus membahagiakan kedua orang tuanya. Kalaupun suatu hari nanti Hadi benar-benar menjadi seorang dokter, itu hanyalah sebuah reward di matanya.
Pastinya, sekarang, apa yang sedari dulu telah direncanakan Hadi untuk hidup dan melakukan serta menjadi apa yang diidamkannya harus ditahan, atau ditunda paling tidak selama dua tahun ke depan sampai ia lulus. Sebenarnya ada beberapa impian Hadi yang menjadi main goalnya, dan ayah-ibu Hadi tahu. Jelas sekali tahu, toh Hadi adalah anak mereka. Entah kenapa sesekali pernyataan seperti itu muncul di kepala Hadi. Bahkan pernah suatu kali, ada pemikiran permisif di kepalanya yang mengatakan, AKU ADALAH ROBOT. Tapi itu hanya satu kali, Alhamdulillah.
Dan sekarang, Hadi Atmawijaya adalah orang yang menulis paragraf-paragraf di atas. Cerita singkat yang menggambarkan kalau:
“orang sukses menurut pemahaman saya, bukanlah orang yang selalu mengambil semua kesempatan yang ada di hadapannya, melainkan orang yang BERANI MENGATAKAN TIDAK atas apa yang memang TIDAK DIINGINKANNYA”
Jumat, Juli 31
Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker
Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker
oleh: fauzanFADLI
Haha, lucu sekali ketika melihat mereka semua tertawa riang. Begitu lepas menertawakan kecerobohanku, jatuh tersandung karena tali sepatuku sendiri. Entah kenapa sebelumnya aku tidak pernah merasa semarah ini kepada mereka semua. Kepada mereka yang selalu saja mengejek dan menertawakanku semau mereka. Kali ini terasa berbeda.
Sejak merasakan indahnya dunia, aku tinggal di kota ini. Cuma kota Jakarta. Memang pada dasarnya tidak ada keinginan untuk jauh dari kota ini. Dan sejak sembilan belas tahun lalu pula mama dan papaku memanggilku Pandi.
Dengan tidak sedikitpun niat untuk kufur ni’mat atas apa yang telah aku miliki, tapi aku selalu merasa nama ini agak sedikit mengganggu hidupku. Terdengar aneh dan sorry to say agak sial. Tapi biarlah, nikmati saja. Huu.
Pernah suatu hari, saat kelas tiga sekolah dasar dulu, aku menemukan sebuah kata yang sangat dan terasa begitu dalam mengusik hati dan pikiranku, pandir. Ya, kata pander, yang menurut guru bahasa Indonesiaku dulu dan tentu saja beliau telah mengeceknya terlebih dahulu di kamus besar bahasa Indonesia terbitan balai pustaka tahun 1977 itu, pandir sama dengan S-T-U-P-I-D.
Sejak saat itulah, aku merasa begitu sial dalam hidup. Huh! Pokoknya apapun yang kulakukan selalu saja menjadi hal aneh dan bahan celaan oleh orang-orang sekitarku. Bahkan pernah ada seorng teman yang aku masih ingat betul nama dan bentuk mukanya sampai helai-helai rambut yang menutupi dahinya itu, ia datang dan membelaku. Tapi, ia melakukannya dengan tawa licik dan menjijikkan. Aku sungguh sudah tahu apa yang akan dilakukannya terhadap diriku ini, si Pandi ini. Ia akan mengejekku sedetik kemudian setelah ia membelaku dengan palsu. Cuih. Benar saja. Ingin rasanya kumakan kedua bola matanya saat itu juga!
Sebenarnya juga, aku bukanlah tipe orang yang bodoh-bodoh amat. Malahan bisa dikategorikan dan klasifikasikan serta terdefinisi dengan empiris bahwa aku ini pintar, hmm, bukan, bukan pintar, tapi cerdas dan beruntung! Itu saja.
Dari taman kanak-kanak, aku selalu mendapat apa yang disebut dengan penghargaan. Prestasi, atau piala, atau piagam, atau apalah namanya. Guru-guruku juga mengakuinya, walaupun sedikit ’aneh’ dan pendiam, Pandi adalah anak yang berbakat dan beruntung begitulah yang bisa kusimpulkan dari pidato singkat guru-guruku ketika pembagian raport. Hehe. Terlepas dari apa saja yang teman-temanku lakukan terhadapku tentu saja.
Dan aku pun menyadarinya, bahwa aku adalah orang yang cerdas, beruntung dan intuitif. Sejak kecil. Walaupun namaku bisa saja diplesetin jadi kata yang bermakna s-t-u-p-i-d, aku tetap percaya diri dan yakin akan apa yang aku lakukan. Itu saja mungkin, yakin dan lakukan. Hehe.
Tahun-tahun kuliahku adalah tahun terberat dalam hidupku selama sembilan belas tahun ini. Aku masih dapat menerima dan mengacuhkan apa yang teman-teman SD, SMP dan SMA ku yang mengejek dan menghina kelakuanku yang menurutku biasa saja, tapi ketika masuk ke dunia perguruan tinggi, aku merasa ada hal berbeda dari namaku ini. Pandi. Tidak lagi terdengar aneh, tapi seperti ada sesuatu di dalamnya. Ada makhluk raksasa yang bergejolak tepat di bawah hurup-hurup P, A, N, D, dan I. Dan bukan juga karena kata-kata pandir yang dulu pernah kutemukan dan membuatku menjadi pandir dalam arti sesungguhnya. Entah apa yang ada di dalamnya, tapi seiring tahun ke sembilan belas dalam hidupku ini, menjelang tahun ke dua puluh dimana aku tidak lagi bisa masuk dalam kategori teenager, aku semakin yakin akan apa yang kurasakan, yang aku intuisikan bahkan yang aku imajinasikan adalah bukan sebuah kebetulan belaka. Karena si Pandi kah? Atau hanya perasaanku saja yang selalu percaya dengan apa yang kupercayai sendiri?
Sampai pada saat aku berjalan, melewati seorang pegawai biasa, mungkin pegawai rendahan; karena kemeja yang dikenakannya hanya kemeja biru muda polos berlengan pendek dengan celana yang sedikit kebesaran. Lebih tepatnya aku berjalan dan duduk di sebelahnya. Begitu aneh rasanya jika tidak bergumam atau paling tidak berkomentar melihat tampang orang ini. Dengan headset yang terpasang dengan volume maksimal di kedua telingaku, mustahil bagiku untuk mendengar apapun disekelilingku, apapun yang orang-orang itu lihat dan katakan ketika melihatku bergumam sendiri; semoga mereka mengira aku sedang menerima telepon. Tapi siapa peduli. Toh, orang-orang Jakarta sudah mulai terjangkit wabah apatisme; selain virus babi sialan itu tentu saja. Oke, kembali lagi ke orang yang ada di sampingku ini. Dengan anugerah wajah yang tidak memalukan, kenapa orang ini hanya mampu menjadi pegawai biasa; rendahan mungkin. Entahlah, mungkin saja Allah memang adil dalam mencipta segala keinginan-nya. Hehe. Setelah kuterima asumsi bahwa Allah memang selalu adil, sesaat kemudian aku ikut terjangkit aura apatisme dari orang-orang sekitarku. Tanpa dosa, mataku terlelap. Begitu nyaman.
Masih dengan alunan radio kesukaan di telinga ini, dan langkah-langkahku yang meyakinkan, setapak demi setapak menginjak lantai alumunium halte bis yang mulai berantakan. Di atas jembatan layang aku meratapi betapa nikmatnya hidup ini. Coba lihat di bawah sana! Banyak orang yang bisa dibilang sedang berperang dengan kekayaan jalan, maksudnya, kekayaan akan kendaraan yang membuat jalan terlhat begitu penuh dari atas sini. Memang dilihat sekilas dari luar, nampak elegan dan mengasyikkan duduk di belakang kemudi berbandrol ratusan juta itu, tapi, what the hell do i do now? Meratapi senang melihat kemacetan? It’s a big no no.
Tanpa rasa marah sedikitpun aku masuk ke dalam lingkungan kampus pilihan ayahku ini. Pastinya setelah satu setengah jam di dalam bis dan lima belas menit menikmati jalan dengan sepatuku ini. Gerbang biru dan satpam yang sok atau mungkin memang ramah padaku; padahal aku sama sekali tidak mengenalnya, menyapa dengan senyum simpul mengerikan. Huooh, kantuk ini masih saja singgah di kedua bola mataku, padahal sudah kepejamkan tadi sesaat di bis.
Hari ini ada ujian mata kuliah seorang dosen super cerdas. Lucu juga sih , ikut di kelasnya. Saking cerdasnya dosen itu, ia berhasil membuatku takut setengah mati saat mendengan suaranya saja. Hihi. Sejak semester satu lalu, si super cerdas menakutkan itu selalu memberiku C di kelasnya. It’s ok. Dengan sisa waktu kurang dari lima belas menit sebelum si pengawas ujian yang tukang tidur itu membagikan kertas soal, kusempatkan diriku untuk melihat-lihat sedikit catatanku yang kusut. Bolak-balik halaman demi halaman dan kugumamkan perlahan, ya, hanya digumamkan dan berharap gumamanku itu nyangkut di otakku yang kosong ini. Kata mama, ujian itu seperti berjudi, kalau berjudi tidak membawa modal sama sekali, apa yang mau dipertaruhkan? Aku memutuskan untuk bertaruh sedikit saja, karena alasan malas dan beberapa pertimbangan lain, dan tentu saja disertai dengan doa dan harapan akan keberuntungan dari-nya (tidak lupa usaha mencari sumbangan kanan-kiri).
Pandi !!! Si pengawas tukang tidur itu menyebutkan nama yang sudah kukenal sejak aku menghirup udara dunia ini. Rasanya seperti makan waffle cokelat yang suda melempem, agak khawatir. Huff, ternyata aku salah menandatangani absen ujian. Hehe. Si pengawas geram melihat tingkahku yang memang menyebalkan, aku maju dan cengengesan di depan mukanya. Haha.
Ujian berlangsung singkat. Hiperbola dan ironi yang kugabungkan dalam kalimat sebelum ini.
Oh dosen-dosenku, lihat apa yang bisa kalian berikan untuk si pandi.
Dan tidak sama persis dengan situasi yang terjadi di sinema asal korea itu; boys before flowers. Dengan aktor-aktor kaya-raya dan hidupnya sudah sangat membosaknkan sampai-sampai hanya bisa menjahili teman mereka yang misikin dan muram durja itu. Tidak sesadis itu. Apa yang terjadi padaku paling tidak, lebih manusiawi daripada apa yang diceritakan dalam sinema itu.
Aku tidak mencoba untuk menjadi kuat sekalipun, aku hanya mengikuti apa yang aku suka sebut dengan istilah intuisi. Apapun yang teman-teman kampusku lakukan terhadapku, alhamdulillah aku masih menganggap mereka semua sebagai teman. Seharusnya malah tidak! Kalau saja aku menanggapi setiap celaan dan ‘candaan’ dari mulut-mulut mereka. Pernah suatu hari setelah kelas baru saja selesai, aku dijahili habis-habisan oleh seisi kelas. Mereka semua mengataiku dengan sindiran-sindiran halus dan menjodohkanku dengan mahasiswi terjelek sepanjang masa. Bayangkan saja, apa yang bisa kulakukan? Setelah tidak kuat unutk bergeming saja, aku cuma dapat bilang, biarin aja sampe puas. Kata-kataku itu malah membuat mereka semua; termasuk para senior yang ada di situ, mencemoohku. Sudahlah, dalam kejadian itu aku bergumam lagi, sembari berpikir, apa lagi setelah ini.
Pernah suatu ketika kemarahanku memuncak. Aku bergeming dan bergumam, okay, after I’m finishing my bachelor here, I do promise you; all of you, that you won’t see me again!!! Even in your dream!
Tunggu saja sampai apa yang bisa kubukutikan atas diriku ini pada kaian semua. Pada saat kalian bersua denganku dan aku dengan sengaja tidak mempedulikan kehadiran kalian. Itu! Itu adalah kemarahan terbesar yang pernah aku, seorang pandi, rasakan selama hidupnya. Dan berangkat dari situlah, kemudian kadar kedewasaan muncul. Walaupun tetap saja teman-temanku itu beranggapan aku ini memang pandir.
Bodoh, bodoh, aneh, dan menggelikan. Itu sementara yang bisa kuutangkap dari pandangan dan ocehan teman-temanku. Karena itu juga aku lebih senang berdiam dan menikmati sepi. Hihi. Memang secara normal, apa yang kusukai ini agak sedikit diluar kebiasaan, tapi menurutku ini adalah representasi dari apa yang justru mereka semua lakukan padaku. Ketika mereka menggunjingku dari belakang, aku tahu itu. Abku bahkan tahu apa yang mereka impikan tentang diriku. Aku juga tidak berusaha mengenyakkan diriku dengan mereka semua, teman-teman satu kampusku itu. Hanya ada aku dan duniaku. Cukup.
Tak mengerti aku dibilang begini-begitu, ada salah seornag temanku yang aku nilai sangat kejam padaku. Yang hanya bisa ia lakukan adalah melihatku dengan pandangannya yang munafik itu lalu menyapaku dengan ramah-tamah berlebihan yang dibuat-buat. Dia sebenarnya sangat iri padaku, sangat iri, terlalu iri untuk diungkapkan dan diekspersikan dengan cara apapun, jadi dia memilih untuk membenci diriku saja sebagai representasi dari rasa iri hatinya terhapadku. Aku tahu itu, aku tahu apa yang kurasakan itu benar, benar kalau ia iri setengah mati kepadaku. Aku juga tahu apa yang aku suka adalah bergumam dan berkomentar akan hal-hal yang terjadi, cuma berkomentar dalam hati dan melakukan monolog-monolog panjang sendiri tentu saja.
Dengan memperhatikan, rasa yang dihasilkan akan lebih dalam dan sensitif. Dengan begitu, walaupun mereka, teman-temanku sudah memberiku stampel pandir atas nama pandi yang kusandang, aku menjadi biasa saja.
Biasa menikmatinya.
Melihat dari sudut pandang orang yang tersendirikan situasi dan melakukan berjuta monolog setiap hari adalah sebuah kuliah pribadi yang aneh dan mengasyikkan.
Terlalu banyak kejadian yang terjadi dihadapanku yang aku sendiri bingung menaggapinya. Saat sebenarnya aku hanya bergumam dalam hati, hanya bergumam; walaupun kadang memang dengan gumaman yang sungguh-sungguh. Apa yang akau pikirkan, aku lakukan monolognya sendiri, itu semua terjadi begitu saja.
Pernah suatu hari, aku secara tidak sengaja, atau di bawah alam sadar, membaca dan mengikuti beberapa quiz tentang nasib di internet. Cukup menyenangkan. Tapi guess what? Hasil dari ketiga ramalan itu sama, begini isinya; kamu akan mendapatkan semua apapun yang kamu inginkan. Haha. Pandi, pandi, betapa beruntungnya kamu. Oh, thank God, I am Pandi.
The Mindtalker;
