Kamis, Agustus 27

PEOPLE CHANGE (unnecessarily)

PEOPLE CHANGE (unnecessarily)
on Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker

Kali akan sedikit lumayan PARAH. Karena kali bukan lagi Pandi yang akan diceritakan. Bukan lagi orang yang banyak dibilang bodoh oleh orang lain. Untuk kisah ini, aku, si Pandi, akan menceriterakannya dengan sudut pandang yang lain. Sebagai wujud keprihatinanku terhadap ORANG-ORANG YANG BERUBAH (secara tidak perlu).
Sebagai orang yang tertutup (sekali) Pandi tentu saja hanya memilki beberapa teman dekat. Atau mungkin banyak yang lebih senang menyebutnya dengan istilah ‘sahabat’. Apalah. Terhitung hanya ada empat orang saja yang tahu lekat tentang Pandi, dan sebaliknya. Itu pun menurut keempat teman dekat Pandi, sosoknya masih tergolong misteius. Pandi memang sulit sekali untuk percaya kepada makhluk lain. Bahkan mungkin kepada dirinya sendiri. Entahlah, memang Pandi aneh.
Salah satu dari keempat teman dekatnya itu bernama Dayat. Mungkin untuk beberapa orang, nama ini terdengar (sorry to say) kampungan. Tapi memang begitu adanya. Dayat adalah seorang mahasiswa sejarah di salah satu universitas negeri di Jakarta. Berasal dari keluarga yang (sangat) sederhana namun gigih sekali bekerja. Dengan muka yang juga pas-pasan atau dengan istilah lain under average tapi terkesan sangat menghibur dan lucu sekali. Yang jika membayangkan mukanya saja akan membuat Pandi tertawa ringan. Begitu bening. Polos.
Sebenarnya dari keempat teman dekat Pandi, masih terbagi lagi menjadi dua kelompok bermain. Hehe. Bukan bermaksud sebagai dikotomi pergaulan, tapi menurut Pandi memang itulah yang terjadi (secara alami). Pandi, Dayat, dan Onci. Mereka bertiga dekat. Dekat dengan wajar dan tidak berlebihan tentu saja. Sejak SMA dulu, paling tidak setiap hari minggu Pandi, Dayat, dan Onci ‘kumpul bocah’ di rumah Onci. Sekedar untuk numpang makan siang atau hanya ngobrol-ngobrol kecil saja. Dari ketiga orang itu, Dayat adalah yang paling pendiam, bukan berarti pasif. Namun memang perawakan Dayat yang SELALU terkesan INNOCENT membuatnya menjadi topic yang paling menarik. Ada-ada saja tingkahnya yang menggelikan dan tidak masuk akal. Lucu sekali.
Sejak lulus SMA mereka bertiga kuliah di kampus yang berbeda-beda, Pandi yang kuliah di mana ia tidak seharusnya kuliah, Onci yang alhamdulillah lulus SPMB dan kuliah di tengah pulau Jawa sana, dan Dayat yang berinisisasi untuk belajr tentang sejarah; walaupun dulunya sempat dua kali mengganti jurusan. Dayat selain lugu bin polos bin bening bin innocent itu juga terkenal plin-plan dan mudah sekali terbujuk. Entah kenapa dari dulu memang begitu.
Kuliah di tempat yang sama sekali berbeda ini membuat mereka jarang kumpul bocah lagi. Walaupun sekarang sudah ada wall facebook tapi tetap saja, kalu tidak kopi darat rasanya kurang sreg.
Akhir semester ini Onci pulang ke Jakarta. Sayangnya Cuma untuk beberapa hari saja. Sudah dua tiga kali Onci mengajak Pandi untuk main dan makan (lagi seperti dulu) di rumahnya, tapi ada saja alasan Pandi. Kali ini Pandi memang benar-benar tidak bisa; bukan karena kebiasaan buruknya yang senang sekali menyendiri.
Akhirnya dengan inisiatif sendiri, dan atas ketidakenakan atas penolakan yang selalu keluar dari mulutnya, Pandi mengajak Onci dan Dayat untuk makan di luar. Malam itu Jakarta begitu bersahabat, walaupun agak sedikit lebih dingin dari biasanya. Tapi sudahlah, hajar saja.
Setelah sekian lama tidak bertemu, banyak sekali cerita yang diperdengarkan ketika mereka bertemu di rumah Onci. Walaupun tanpa si Dayat yang tidak ada kabarnya. Entah ada angin apa, Onci mengajak Pandi untuk makan di luar saja, bukan di rumanya dengan santapan khas Ibu Onci yang selalu mantap. There should be something.
Benar saja, ada cerita yang belum sempat dikalimatkan kepada Pandi. Kali ini muka Onci terlihat serius dan galak. Setelah menyantap setangah potong steak ayam. Onci berbasa-basi kecil dan menceritakan kisah tentang si Dayat. Kisah yang sama sekali Pandi tidak tahu dan TIDAK JUGA DAPAT DITERIMA dengan akal sehat. Sesehat apapun akal Pandi malam itu.
Di bawah dentuman rintik hujan dan gemuruh suara motor pinggir jalan. Onci bercerita tentang kehidupan Dayat yang sekarang.
Dayat yang dulunya begitu lucu. Begitu polos dan kampungan sekali. Dayat yang selalu bekerja keras. Apapun yang bisa dilakukannya. Pandi ingat betul bagaimana gambaran kaedaan rumah Dayat. Sampai tiap sudut kamar Dayat tergambar jelas ketika mendengarkan cerita Onci.
Kali ini Pandi yang bodoh itu akhrinya mengerti, apa yang selalu ayah mamanya bilang. Hati-hati dengan pergaulanmu. Yang awalnya Pandi menganggap itu hanya sekedar wejangan paling standar. Tapi kini. Setelah terkuak kisah teman dekatnya sendiri, Pandi yakin bahwa memang. It’s obviously occurring right in front of his glasses.
Baiklah, seperti yang tadi sudah digambarkan. Sosok seorang Dayat yang seperti itu. Yang begitu ‘anak baik-baik’ dan dari keluarga yang baik-baik, juga berasal dari latar belakang yang baik-baik dan bahkan patut diteladani. Kegigihan keluarga Dayat. Sekarang semua telah berbeda. Sama sekali mungkin.
Cerita si Onci.
Berdasarkan apa yang telah didengarnya langsung dari Dayat.
Awalnya Onci tidak percaya sama sekali, mendapat kabar tentang perubahan sikap Dayat yang hampir seratus tujuh puluh sembilan derajat itu. Mendapat telepon dari salah seorang teman yang mencoba mengklarifikasi langsung dari Onci sebagai teman dekat Dayat, bahwa kini ada yang aneh dari Dayat yang lugu itu. Sehari setelah mendapat kabar itu, dan kebetulan sedang ada di Jakarta, Onci mengajak Dayat untuk bertamu ke rumahnya. Dengan alasan sudah lama tidak ngobrol. Pada awalnya Dayat menolak beberapa kali, karena sedang ingin ke rumah temannya. Tapi ketika Dayat sempat untuk datang kerumah Onci. Onci tidak langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Dayat. Dengan basa-basi layaknya teman dekat yang sudah lama tidak bertemu, dan setelah bincang-bincang panjang dan juga tanpa ditanya sedikitpun. Keluar begitu saja pengakuan dari mulut manusia se-polos Dayat, kalau memang akhir-akhir ini hidupnya berubah.
Berubah bukan lagi seperti dulu. Seperti yang Onci dan Pandi kenal. Kuliah yang dulu sangat digemarinya menjadi kacau. Padalah Onci masih ingat betul saat-saat ketika Dayat bersemangat mengerjakan setiap papernya. Ketika Pandi dipaksa untuk menerjemahkan lembar-lembar buku sejarahnya. Pada waktu tiap kali on line bareng, ada saja informasi yang tidak Pandi dan Onci ketahui, Dayat sudah punya referensinya. Kini, semua itu menjadi DULU. Dulu sekali. Menurut Dayat sendiri. Bahkan, sekarang uang sks-nya pun belum dilunasi. Entah kemana perginya uang-uang itu. Mulai dari bolos kuliah, bukan sekedar bolos, tapi sama sekali tidak masuk kuliah. Hanya untuk pergi kesana-kemari. Nilai-nilainya yang terjun bebas. Dayat telah benar-benar berbeda.
Kemudian ketika mendengar cerita langsung dari sumbernya, Onci hanya terbelalak diam mematung tidak sanggup menerima apa yang sedang didengarnya. Dayat meneruskannya lagi. Kali ini ia berkisah tentang awalnya ia mengenal salah seorang temannya, teman yang menurutnya baik. Teman baik-baik (menurt persepsinya saja). Cuih.
Dayat diajak untuk mengenal lebih dalam lagi apa yang dikenal dengan ‘dunia malam’. Dunia yang jelas-jelas terparadigma sebagai dunia yang tidak layak untuk masuk ke dalam kategori ‘patut dicicipi’. Dan Onci yakin kalau Dayat tahu akan hal itu. Jelas sekali tahu, kalau tidak buat apa Dayat sekolah selama dua belas tahun dan hidup di lingkungan relijius seperti itu?
Katanya, waktu itu, atau lebih tepatnya malam itu, ia tidak bawa KTP dan uang sepeser pun. Ketika di ajak masuk ke dalam sebuah night club. Bisa dibayangkan seorang dengan muka, tampang, bahasa tubuh, gaya, dan logat seorang Dayat, dalam keadaan seperti itu. Ditemani oleh orang yang baru saja dikenalnya dan berasal dari negeri antah berantah itu. Sungguh tidak dapat terbayangkan. Masuk dan di treat bak teman lama. Minum dan terbahak-bahak dengan dentuman music yang super keras. Pastinya sudah dapat ditebak, bagaimana keadaan ‘anak baru’ di dalam dunia malam seperti itu. Akan banyak sekali yang tertarik untuk menjadikannya teman. Cuih.
Mulai sejak itulah, Dayat mulai meruntuhkan kedigjayaannya dulu. Ketika ia rajin belajar dan gigih bekerja. Berubah menjadi sosk lain yang begitu lain. Malas dan hanya ingin berlari bebas menghirup lebih banyak lagi hedonistisme yang lain lagi.
Mencoba menjadi anak nakal yang menurut Pandi dan Onci, it’s too much and also too late. Ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk menikmati dunia seperti itu. Bahkan mungkin tidak aka nada waktu yang tepat untuk itu semua. Maksudnya, untuk minum-minum dan bersantai-santai dalam lingkungan HEDON seperti itu. Sayang sekali. Sungguh sangat disayangkan. Pandi dan Onci keliru tentang Dayat. sama sekali keliru. Satu hal lagi statement yang sungguh tidak mudah dicerna adalah ketika Dayat bilang, ‘kenapa memang? aku suka hidup seperti ini’. Menurut Pandi dan Onci: HIDUP YANG SEPERTI ORANG BODOH YANG TIDAK TAHU APA ARTINYA HIDUP N-O-R-M-A-L.
Ini bukan lagi lamunan.
Besok harus dirubah! Harus.

Jumat, Agustus 14

bilang saja 'TIDAK !!!'

Bilang saja ‘Tidak!’
written by: fauzanFADLI

Kenapa ya semua yang ada di bumi Allah ini menjadi sangat menyebalkan ketika hal yang juga paling menyebalkan itu terjadi?

Hadi tahu statementnya yang barusan itu kurang baik, kurang baik untuk seorang muslim yang seharusnya selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan. Tapi entahlah, memang itu yang ada dan terlintas di otak seorang remaja di umurnya yang menuju dua puluh tahun itu.
Situasi yang hanya diketahuinya sendiri, sebuah keadaan dimana bumi terasa berhenti berputar dan begitu menyebalkan di matanya. Ketika seorang Hadi harus masuk ke dalam kelas dan mendengar sang dosen meracau dengan dahsyat tepat di hadapannya. Belum ada hal yang bisa menghilangkan rasa itu, atau paling tidak mengurangi kebenciannya terhadap apa yang seharusnya Hadi hadapi untuk empat tahun ke depan; tidak juga dengan nilai-nilai bagus yang didapatnya dari dosen-dosen yang mulia itu.

Kemudian di saat menikmati detik-detik persenggemaannya dengan bergurau dan terbahak-bahak dengan teman-temannya adalah sebuah penawar. Penawar yang mengapa hanya datang sesekali dan terasa begitu singkat. Mungkin inilah yang semua orang di bumi ini rasakan, ketika mendapatkan apa yang klik dengan diri mereka, rasa itu mudah saja menguap dan kabur dari pandangan. Indahnya keadilan Allah.

Tulisan ini dibuat sebagai representasi seseorang yang tidak tahu pasti apa yang bisa dilakukannya. Seorang Hadi Atmawijaya, lelaki keturunan jawa-betawi.

Lahir dan besar di ibu kota yang kian ruwet ini, tidak sedikitpun membuat Hadi berbangga hati. Tidak juga bersedih hati. Karena, belum ada sebersit pikiran pun bagi Hadi untuk pergi dan menetap di kota lain di Indonesia atau dimana pun. Atau mungkin sampai someday ada kesempatan bagi Hadi untuk melakukannya. Bukan saja Hadi yang berpikir tentang ini, bahkan orang-orang kampung pun banyak yang sependapat dengannya. Lihat saja betapa banyak urban yang merantau dan mencoba bersetubuh dengan jahatnya kota ini pikirnya. Belum lagi kasus-kasus terorisme yang menjadikan Jakarta sebagai sarana rekreasi para teroris pengecut itu. Cuih!

Dengan usia yang hampir dua puluh, tapi secara matematis, Hadi masih dikategorikan sebagai teenager. Sosok Hadi yang biasa saja, begitu usual, sebiasa layaknya mahasiswa di Jakarta dan asli orang Jakarta yang berasal dari kalangan menengah ke bawah tentunya. Stelan kaos dan jeans atau sesekali menyematkan kemeja lengan panjang dan tas slempang kusut di tubuhnya. Begitu saja. Tolong jangan bayangkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang Anda biasa lihat di sinetron-sinetron; bukan yang seperti itu pastinya. Walaupun dengan tampang standard, sejak sekolah menengah dulu, bahkan sejak sekolah dasar, ada saja cewe-cewe yang terpesona dengannya. Entah dilihat dari sudut mana. Baiklah, untuk ukuran orang Jakarta umumnya, memang, Hadi CUKUP menarik perhatian. Farily attractive.

Untuk ukuran mahasiswa ‘biasa’, sebenarnya Hadi bukanlah tipe mahasiswa biasa. Hadi ikut beberapa organisasi, juga aktif di dalam kelas (dalam beberapa mata kuliah saja), bahkan cukup berprestasi. Tidak pernah Hadi lulus sebuah lembaga pendidikan tanpa meninggalkan apa yang biasa disebut dengan piagam. Selalu saja ada yang diperolehnya sejak sekolah dasar dulu, sampai saat ini. Hadi juga senang mangatur dirinya sendiri, sedikit apatis dengan dunia sekitarnya, namun itulah yang membuatnya survive menurut pemahaman dirinya sendiri.
Dengan prolog yang cukup detil itu, saya rasa sudah cukup terdeskripsikan bagaimana sebenarnya sosok seorang Hadi Atmawijaya.

Mengalami situasi yang tidak menyenangkan seperti itu dan untuk waktu yang lama adalah siksaan batin bagi Hadi yang selalu bergejolak. Selalu, setiap kali dirinya dipaksa harus berangkat dan menghadiri kuliah. Bagaimana tidak? Apa yang dipelajarinya sekarang bukanlah apa yang Hadi sukai sama sekali. Kalau ada istilah ‘do what you love to do’ merupakan istilah yang mungkin paling menusuk baginya. Mengambil program studi kedokteran umum yang rumit, sulit, menyebalkan, mahal dan bertele-tele serta yang paling penting adalah YANG TIDAK DISUKAINYA. Adalah keputusan yang diambilnya untuk memenuhi apa yang diketahui Hadi sebagai ‘bakti kepada kedua orang tua’.
Untuk dapat berbakti kepada kedua orang tuanya, Hadi masuk dan berkuliah di fakultas kedokteran. Fakultas orang-orang kaya, fakultas di mana 90% anak-anak kecil di seluruh dunia mencita-citakannya. Tidak begitu adanya dengan Hadi. Jelas sekali tidak. Hadi sadar, menjadi seorang dokter memang terdengar sangat menggairahkan, tapi ia tahu, itu bukanlah dirinya, bukanlah apa yang diinginkannya. Sama sekali.

Walau bagaimanapun, ini adalah tahun kedua untuk Hadi. Semester empat di fakultas kedokteran pilihan ayahnya. Sudah sangat terlambat untuk menyesali apa yang seharusnya sejak dulu ia rasakan. Sekarang bukanlah waktunya untuk berdiam diri dan memandang apa yang ada di luar sana dari balik gorden jendela. Sekarang saatnya untuk membahagiakan mereka. Kedua orang tua Hadi. Itulah yang menjadi satu-satunya semangat Hadi untuk datang, belajar, dan kuliah.
Sekarang tinggal itulah yang harus dilakukannya. Tidak ada lagi. Menyelesaikan sarjana kedokteran umum yang terpaksa diambilnya, sekaligus membahagiakan kedua orang tuanya. Kalaupun suatu hari nanti Hadi benar-benar menjadi seorang dokter, itu hanyalah sebuah reward di matanya.
Pastinya, sekarang, apa yang sedari dulu telah direncanakan Hadi untuk hidup dan melakukan serta menjadi apa yang diidamkannya harus ditahan, atau ditunda paling tidak selama dua tahun ke depan sampai ia lulus. Sebenarnya ada beberapa impian Hadi yang menjadi main goalnya, dan ayah-ibu Hadi tahu. Jelas sekali tahu, toh Hadi adalah anak mereka. Entah kenapa sesekali pernyataan seperti itu muncul di kepala Hadi. Bahkan pernah suatu kali, ada pemikiran permisif di kepalanya yang mengatakan, AKU ADALAH ROBOT. Tapi itu hanya satu kali, Alhamdulillah.

Dan sekarang, Hadi Atmawijaya adalah orang yang menulis paragraf-paragraf di atas. Cerita singkat yang menggambarkan kalau:

“orang sukses menurut pemahaman saya, bukanlah orang yang selalu mengambil semua kesempatan yang ada di hadapannya, melainkan orang yang BERANI MENGATAKAN TIDAK atas apa yang memang TIDAK DIINGINKANNYA”

Jumat, Juli 31

Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker

Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker

oleh: fauzanFADLI

Haha, lucu sekali ketika melihat mereka semua tertawa riang. Begitu lepas menertawakan kecerobohanku, jatuh tersandung karena tali sepatuku sendiri. Entah kenapa sebelumnya aku tidak pernah merasa semarah ini kepada mereka semua. Kepada mereka yang selalu saja mengejek dan menertawakanku semau mereka. Kali ini terasa berbeda.

Sejak merasakan indahnya dunia, aku tinggal di kota ini. Cuma kota Jakarta. Memang pada dasarnya tidak ada keinginan untuk jauh dari kota ini. Dan sejak sembilan belas tahun lalu pula mama dan papaku memanggilku Pandi.

Dengan tidak sedikitpun niat untuk kufur ni’mat atas apa yang telah aku miliki, tapi aku selalu merasa nama ini agak sedikit mengganggu hidupku. Terdengar aneh dan sorry to say agak sial. Tapi biarlah, nikmati saja. Huu.

Pernah suatu hari, saat kelas tiga sekolah dasar dulu, aku menemukan sebuah kata yang sangat dan terasa begitu dalam mengusik hati dan pikiranku, pandir. Ya, kata pander, yang menurut guru bahasa Indonesiaku dulu dan tentu saja beliau telah mengeceknya terlebih dahulu di kamus besar bahasa Indonesia terbitan balai pustaka tahun 1977 itu, pandir sama dengan S-T-U-P-I-D.

Sejak saat itulah, aku merasa begitu sial dalam hidup. Huh! Pokoknya apapun yang kulakukan selalu saja menjadi hal aneh dan bahan celaan oleh orang-orang sekitarku. Bahkan pernah ada seorng teman yang aku masih ingat betul nama dan bentuk mukanya sampai helai-helai rambut yang menutupi dahinya itu, ia datang dan membelaku. Tapi, ia melakukannya dengan tawa licik dan menjijikkan. Aku sungguh sudah tahu apa yang akan dilakukannya terhadap diriku ini, si Pandi ini. Ia akan mengejekku sedetik kemudian setelah ia membelaku dengan palsu. Cuih. Benar saja. Ingin rasanya kumakan kedua bola matanya saat itu juga!

Sebenarnya juga, aku bukanlah tipe orang yang bodoh-bodoh amat. Malahan bisa dikategorikan dan klasifikasikan serta terdefinisi dengan empiris bahwa aku ini pintar, hmm, bukan, bukan pintar, tapi cerdas dan beruntung! Itu saja.

Dari taman kanak-kanak, aku selalu mendapat apa yang disebut dengan penghargaan. Prestasi, atau piala, atau piagam, atau apalah namanya. Guru-guruku juga mengakuinya, walaupun sedikit ’aneh’ dan pendiam, Pandi adalah anak yang berbakat dan beruntung begitulah yang bisa kusimpulkan dari pidato singkat guru-guruku ketika pembagian raport. Hehe. Terlepas dari apa saja yang teman-temanku lakukan terhadapku tentu saja.

Dan aku pun menyadarinya, bahwa aku adalah orang yang cerdas, beruntung dan intuitif. Sejak kecil. Walaupun namaku bisa saja diplesetin jadi kata yang bermakna s-t-u-p-i-d, aku tetap percaya diri dan yakin akan apa yang aku lakukan. Itu saja mungkin, yakin dan lakukan. Hehe.

Tahun-tahun kuliahku adalah tahun terberat dalam hidupku selama sembilan belas tahun ini. Aku masih dapat menerima dan mengacuhkan apa yang teman-teman SD, SMP dan SMA ku yang mengejek dan menghina kelakuanku yang menurutku biasa saja, tapi ketika masuk ke dunia perguruan tinggi, aku merasa ada hal berbeda dari namaku ini. Pandi. Tidak lagi terdengar aneh, tapi seperti ada sesuatu di dalamnya. Ada makhluk raksasa yang bergejolak tepat di bawah hurup-hurup P, A, N, D, dan I. Dan bukan juga karena kata-kata pandir yang dulu pernah kutemukan dan membuatku menjadi pandir dalam arti sesungguhnya. Entah apa yang ada di dalamnya, tapi seiring tahun ke sembilan belas dalam hidupku ini, menjelang tahun ke dua puluh dimana aku tidak lagi bisa masuk dalam kategori teenager, aku semakin yakin akan apa yang kurasakan, yang aku intuisikan bahkan yang aku imajinasikan adalah bukan sebuah kebetulan belaka. Karena si Pandi kah? Atau hanya perasaanku saja yang selalu percaya dengan apa yang kupercayai sendiri?

Sampai pada saat aku berjalan, melewati seorang pegawai biasa, mungkin pegawai rendahan; karena kemeja yang dikenakannya hanya kemeja biru muda polos berlengan pendek dengan celana yang sedikit kebesaran. Lebih tepatnya aku berjalan dan duduk di sebelahnya. Begitu aneh rasanya jika tidak bergumam atau paling tidak berkomentar melihat tampang orang ini. Dengan headset yang terpasang dengan volume maksimal di kedua telingaku, mustahil bagiku untuk mendengar apapun disekelilingku, apapun yang orang-orang itu lihat dan katakan ketika melihatku bergumam sendiri; semoga mereka mengira aku sedang menerima telepon. Tapi siapa peduli. Toh, orang-orang Jakarta sudah mulai terjangkit wabah apatisme; selain virus babi sialan itu tentu saja. Oke, kembali lagi ke orang yang ada di sampingku ini. Dengan anugerah wajah yang tidak memalukan, kenapa orang ini hanya mampu menjadi pegawai biasa; rendahan mungkin. Entahlah, mungkin saja Allah memang adil dalam mencipta segala keinginan-nya. Hehe. Setelah kuterima asumsi bahwa Allah memang selalu adil, sesaat kemudian aku ikut terjangkit aura apatisme dari orang-orang sekitarku. Tanpa dosa, mataku terlelap. Begitu nyaman.

Masih dengan alunan radio kesukaan di telinga ini, dan langkah-langkahku yang meyakinkan, setapak demi setapak menginjak lantai alumunium halte bis yang mulai berantakan. Di atas jembatan layang aku meratapi betapa nikmatnya hidup ini. Coba lihat di bawah sana! Banyak orang yang bisa dibilang sedang berperang dengan kekayaan jalan, maksudnya, kekayaan akan kendaraan yang membuat jalan terlhat begitu penuh dari atas sini. Memang dilihat sekilas dari luar, nampak elegan dan mengasyikkan duduk di belakang kemudi berbandrol ratusan juta itu, tapi, what the hell do i do now? Meratapi senang melihat kemacetan? It’s a big no no.

Tanpa rasa marah sedikitpun aku masuk ke dalam lingkungan kampus pilihan ayahku ini. Pastinya setelah satu setengah jam di dalam bis dan lima belas menit menikmati jalan dengan sepatuku ini. Gerbang biru dan satpam yang sok atau mungkin memang ramah padaku; padahal aku sama sekali tidak mengenalnya, menyapa dengan senyum simpul mengerikan. Huooh, kantuk ini masih saja singgah di kedua bola mataku, padahal sudah kepejamkan tadi sesaat di bis.

Hari ini ada ujian mata kuliah seorang dosen super cerdas. Lucu juga sih , ikut di kelasnya. Saking cerdasnya dosen itu, ia berhasil membuatku takut setengah mati saat mendengan suaranya saja. Hihi. Sejak semester satu lalu, si super cerdas menakutkan itu selalu memberiku C di kelasnya. It’s ok. Dengan sisa waktu kurang dari lima belas menit sebelum si pengawas ujian yang tukang tidur itu membagikan kertas soal, kusempatkan diriku untuk melihat-lihat sedikit catatanku yang kusut. Bolak-balik halaman demi halaman dan kugumamkan perlahan, ya, hanya digumamkan dan berharap gumamanku itu nyangkut di otakku yang kosong ini. Kata mama, ujian itu seperti berjudi, kalau berjudi tidak membawa modal sama sekali, apa yang mau dipertaruhkan? Aku memutuskan untuk bertaruh sedikit saja, karena alasan malas dan beberapa pertimbangan lain, dan tentu saja disertai dengan doa dan harapan akan keberuntungan dari-nya (tidak lupa usaha mencari sumbangan kanan-kiri).

Pandi !!! Si pengawas tukang tidur itu menyebutkan nama yang sudah kukenal sejak aku menghirup udara dunia ini. Rasanya seperti makan waffle cokelat yang suda melempem, agak khawatir. Huff, ternyata aku salah menandatangani absen ujian. Hehe. Si pengawas geram melihat tingkahku yang memang menyebalkan, aku maju dan cengengesan di depan mukanya. Haha.

Ujian berlangsung singkat. Hiperbola dan ironi yang kugabungkan dalam kalimat sebelum ini.

Oh dosen-dosenku, lihat apa yang bisa kalian berikan untuk si pandi.

Dan tidak sama persis dengan situasi yang terjadi di sinema asal korea itu; boys before flowers. Dengan aktor-aktor kaya-raya dan hidupnya sudah sangat membosaknkan sampai-sampai hanya bisa menjahili teman mereka yang misikin dan muram durja itu. Tidak sesadis itu. Apa yang terjadi padaku paling tidak, lebih manusiawi daripada apa yang diceritakan dalam sinema itu.

Aku tidak mencoba untuk menjadi kuat sekalipun, aku hanya mengikuti apa yang aku suka sebut dengan istilah intuisi. Apapun yang teman-teman kampusku lakukan terhadapku, alhamdulillah aku masih menganggap mereka semua sebagai teman. Seharusnya malah tidak! Kalau saja aku menanggapi setiap celaan dan ‘candaan’ dari mulut-mulut mereka. Pernah suatu hari setelah kelas baru saja selesai, aku dijahili habis-habisan oleh seisi kelas. Mereka semua mengataiku dengan sindiran-sindiran halus dan menjodohkanku dengan mahasiswi terjelek sepanjang masa. Bayangkan saja, apa yang bisa kulakukan? Setelah tidak kuat unutk bergeming saja, aku cuma dapat bilang, biarin aja sampe puas. Kata-kataku itu malah membuat mereka semua; termasuk para senior yang ada di situ, mencemoohku. Sudahlah, dalam kejadian itu aku bergumam lagi, sembari berpikir, apa lagi setelah ini.

Pernah suatu ketika kemarahanku memuncak. Aku bergeming dan bergumam, okay, after I’m finishing my bachelor here, I do promise you; all of you, that you won’t see me again!!! Even in your dream!

Tunggu saja sampai apa yang bisa kubukutikan atas diriku ini pada kaian semua. Pada saat kalian bersua denganku dan aku dengan sengaja tidak mempedulikan kehadiran kalian. Itu! Itu adalah kemarahan terbesar yang pernah aku, seorang pandi, rasakan selama hidupnya. Dan berangkat dari situlah, kemudian kadar kedewasaan muncul. Walaupun tetap saja teman-temanku itu beranggapan aku ini memang pandir.

Bodoh, bodoh, aneh, dan menggelikan. Itu sementara yang bisa kuutangkap dari pandangan dan ocehan teman-temanku. Karena itu juga aku lebih senang berdiam dan menikmati sepi. Hihi. Memang secara normal, apa yang kusukai ini agak sedikit diluar kebiasaan, tapi menurutku ini adalah representasi dari apa yang justru mereka semua lakukan padaku. Ketika mereka menggunjingku dari belakang, aku tahu itu. Abku bahkan tahu apa yang mereka impikan tentang diriku. Aku juga tidak berusaha mengenyakkan diriku dengan mereka semua, teman-teman satu kampusku itu. Hanya ada aku dan duniaku. Cukup.

Tak mengerti aku dibilang begini-begitu, ada salah seornag temanku yang aku nilai sangat kejam padaku. Yang hanya bisa ia lakukan adalah melihatku dengan pandangannya yang munafik itu lalu menyapaku dengan ramah-tamah berlebihan yang dibuat-buat. Dia sebenarnya sangat iri padaku, sangat iri, terlalu iri untuk diungkapkan dan diekspersikan dengan cara apapun, jadi dia memilih untuk membenci diriku saja sebagai representasi dari rasa iri hatinya terhapadku. Aku tahu itu, aku tahu apa yang kurasakan itu benar, benar kalau ia iri setengah mati kepadaku. Aku juga tahu apa yang aku suka adalah bergumam dan berkomentar akan hal-hal yang terjadi, cuma berkomentar dalam hati dan melakukan monolog-monolog panjang sendiri tentu saja.

Dengan memperhatikan, rasa yang dihasilkan akan lebih dalam dan sensitif. Dengan begitu, walaupun mereka, teman-temanku sudah memberiku stampel pandir atas nama pandi yang kusandang, aku menjadi biasa saja.

Biasa menikmatinya.

Melihat dari sudut pandang orang yang tersendirikan situasi dan melakukan berjuta monolog setiap hari adalah sebuah kuliah pribadi yang aneh dan mengasyikkan.

Terlalu banyak kejadian yang terjadi dihadapanku yang aku sendiri bingung menaggapinya. Saat sebenarnya aku hanya bergumam dalam hati, hanya bergumam; walaupun kadang memang dengan gumaman yang sungguh-sungguh. Apa yang akau pikirkan, aku lakukan monolognya sendiri, itu semua terjadi begitu saja.

Pernah suatu hari, aku secara tidak sengaja, atau di bawah alam sadar, membaca dan mengikuti beberapa quiz tentang nasib di internet. Cukup menyenangkan. Tapi guess what? Hasil dari ketiga ramalan itu sama, begini isinya; kamu akan mendapatkan semua apapun yang kamu inginkan. Haha. Pandi, pandi, betapa beruntungnya kamu. Oh, thank God, I am Pandi.

The Mindtalker;


Jumat, April 10

lift your hands to Indonesia !

Angkat Tanganmu untuk Indonesia!

oleh Fauzan Fadli

dibuat sebagai salah satu syarat dalam seleksi Pemilihan Duta Muda ASEAN 2009 

 

“Angkat tanganmu untuk Indonesia…angkat tanganmu untuk Indonesia”. Itulah sepenggal lirik lagu yang diciptakan dan dinyanyikan langsung oleh salah seorang penyiar radio dan presenter, Pandji Pragiwaksono. Lagu bergenre rap hip-hop yang terdengar begitu ringan dan dibawakan dalam bahasa ‘rakyat’ yang membumi itu, di dalamnya berisi tentang bagaimana kita sebagai seorang warga negara yang belum mampu berbuat banyak untuk negara tercinta ini. Kemudian dalam lagu ini juga terdapat kritik-kritik yang memang terjadi dan menjadi realita sekarang ini. Sebuah realita yang seharusnya mengusik hati setiap warga negara yang mendengarnya.

 Ketika ada pertanyaan, apa yang telah kamu perbuat untuk Bangsamu? Belum lagi jika disinggung tentang perjuangan pahlawan yang rela berkorban untuk kemerdekaan generasi berikutnya. Jangan tanya apa yang negara telah beri untuk kita, tetapi seharusnya, apa yang telah kita perbuat untuk Negara ini? Ini bukan masalah nasionalisme atau apapun itu istilahnya, namun ini semua lebih cocok dikatakan sebagai sebuah jawaban atas realita yeng terjadi sekarang. Sebuah realita yang sangat kontras dengan perjuangan menuju kemerdekaan, sebuah realita yang membuat kita semua menjadi begitu individualis.

 Indonesia sebagai sebuah negara besar dengan sekian banyak budaya di dalamnya dan sekaligus sebagai salah satu dari warga dunia dalam konteks global ataupun merupakan salah satu negara dari Assoiciation of South-East Asian Nations (ASEAN) dalam cakupan regional, memiliki peran besar dalam menentukan orientasi perkembangan dunia. Dalam ruang lingkup regional seperti ASEAN, tentu saja Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peran signifikan. Sebuah peran yang ke depannya akan di representasikan oleh kaum muda Indonesia yang tangguh dan bertanggungjawab.

 

Indonesia kini memang masih dikategorikan sebagai Negara berkembang (Developed Country), namun dengan populasi besar yang dimilki Indonesia dan dengan jumlah kaum muda dalam hal ini angkatan kerja yang banyak pula, Indonesia diyakini sepuluh tahun ke depan akan memiliki peran jauh lebih besar dalam kancah perkembangan dunia pada umumnya. Secara matematis Indonesia memang memiliki angka kematian dan kelahiran yang besar, berlawanan dengan pertunbuhan jumlah penduduk di negara-negara maju yang relatif warga negaranya berumur panjang dan memilki angka kelahiran yang rendah. Namun hal inilah yang justru akan membuka peluang kaum muda Indonesia untuk mendapat peran lebih besar lagi dalam rangka ikut serta aktif dalam perputaran roda perekonomian dunia.

 

Kaum muda Indonesia yang tangguh dan bertanggungjawab serta dinilai ramah oleh negara-negara lain, lima atau sepuluh tahu mendatang akan memegang banyak sekali peran di berbagai bidang, baik dalam ruang lingkup regional seperti ASEAN maupun global. Potensi kekayaan pangan Indonesia yang melimpah, letak geografis, serta potensi sumber daya manusia yang menjanjikan, membuat Indonesia, khususnya kaum muda Indonesia, menjadi subjek aktif yang bukannya tidak mungkin akan merajai perputaran perekonomian regional dan global.

 Jika diperhitungkan secara logika saja, nantinya lima atau sepuluh tahun mendatang, ketika negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat ataupun Singapura, dengan angka kelahiran dan kematian yang rendah, nantinya akan kekurangan sumber daya manusia yang produktif – dalam hal ini tentu saja kaum muda, untuk mengisi berbagai profesi, keperluan dan kebutuhan mereka. Pada saat itulah, Indonesia yang memiliki angka kelahiran yang tinggi akan berkesempatan untuk menguasai perputaran perekonomian dunia dengan sumber daya manusia yang masih produktif (kaum muda) yang dimiliki untuk mengambil peran lebih jauh lagi.

 Sebuah prediksi yang tidak berlebihan dan masuk akal tentunya. Kaum muda Indonesia akan mendapat kesempatan yang jauh lebih besar dalam hal keikutsertaan dan berperan aktif lima atau sepuluh tahun mendatang untuk kemajuan teknologi dan ekonomi ASEAN secara regional dan dunia dalam ruang lingkup global.

 Sekarang yang menjadi PR terbesar kita, kaum muda Indonesia, adalah bagaimana kita semua mampu mengembangkan diri secara positif. Melakukan hal-hal membangun untuk kemajuan negara tercinta secara khusus dan kemudian siap memberikan kontribusi yang lebih besar lagi untuk masyarakat dunia.

 Jadi, Angkat tanganmu untuk Indonesia !

Sabtu, Maret 21

coba aahhhh


AM I WRY ???????

anak SMA di busway .... bikin kangen

hahahah . ernak banget yeh liat anak SMA yang bercanda dengan sangat lepas . begitu lepas . ditempat umum seperti di dalam busway yang memang ambience-nya selalu sepi . individualis . yaah , memang sebagai warga jakarta yang baik [dan memang belum punya kendaraan pribadi; yang layak] , busway memang menjadi andalan guw kemana-mana . hahahaha .

pagi itu , guw berangkat jam setengah tujuh . naik busway terbaru a.k.a koridor delapan . dari shelter RS. Medika Permata hijau , ga lama kok . terus turun di grogol dua . dari grogol itulah , satu kompi anak SMA berseragam putih abu-abu , anak tar-q [tarakanita] , guw liat di kantongnya .

mreka rame banget . tapi guw pribadi si merasa ga terganggu , ngga banget . malah menikmati . heheheh . seru aja liatnya . ada yang becanda tanpa beban , ada yang lagi ngafalin biologi , ada yang lagi maen psp . haduuuh .

KANGEN SMA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Selasa, Maret 17

cempaka putih - taman lawang - ancol - kemayoran


pertama-tama adalah sebuah wacana hampa yang tidak tahu harus terlaksana atau tidak . kemudian setelah proses pemilihan yang terlalu didramatisasi berakhir , dilanjutkan dengan perang air . kemudian wacana tersebut menjadi sebuah kenyataan yang sangat insidental .

kawasan kota tua . museum fatahillah . awalnya di sanalah takdir bermaksud mempersuakan kami . pada dasarnya kami yang dimaksud di sini juga belumlah jelas . siapa ???
namun kemudian , setalah drama itu semua . akirnya hadirlah sepuluh manusia yang diproklamasikan sebagai manusia yang paling tidak menghargai hidup , manusia yang [mungkin] sedang sakit jiwa , manusia-manusia yang sepertinya begitu memiliki waktu luang , maksudnya sudah benar-benar tidak ada hal lain lagi yang lebih pantas untuk dikerjakan .

berangkat pukul sepuluh malam . setelah menunaikan yang empat rakaat . padahal sebelumnya , tujuannya adalah langsung ke pantai itu , tapi sebelum , motor2 itu meraung-raung , salah satu dari kami bersepuluh , berwacana . transit ke taman lawang kemungkinannya akan menjadi dahsyat . seru . hahahaha . cuma tawa ringan yang terdengar . tawa ringan pertanda setuju . akhirnyalah . melalui manggarai , sudirman , kemudian taman lawang yang penuh dengan 'bunga-bunga' malam yang TAMPAK lebih aduhai dari mereka yang asli . sangat seru !!! dan akhirnya setelah puas menikmati pemandangan itu , berputar di suropati . kemudian keluar di salemba , meneruskan langsung ke arah ancol . ya ! pantai itu . di sanalah . haah , helaan napas setengah puas yang bersatu dengan sebuah semangat akan eksperimen akan hal-hal yang akan dilakukan .

begitu rumit rasanya .

di sana . di balik panggung itu . nantinya akan menjadi sebuah lagu mimpi untuk mereka , untuk kami . menikmati alunan , lagu dan irama dari mereka yang merasa bersuara syahdu . begitu menyenangkan rasanya . dengan suasana baru , yang sangat segar . suasana baru setelah mendapati kekuasaan yang semua orang tahu kalau memang sangat diinginkannya . hahahaha . kenudian , di dermaga yang katanya angin di sana berhembus dengan damai itu , beberapa gambar terabadikan dengan setengah sempurna . tengah malam , ya ! waktu itu tengah malam yang cerah . bayangkan saja , begitu jarang rasanya bintang-bintang dan bulang terintegrasi menjadi satu pada langit yang sama di atap langit jakarta yang telah kelabu dengan asap ?? helaan napas lain berhembus .

alunan musik dan suara-suara otak kami pun megalir begitu saja . mengalir seperti apa yang emmang telah direncanakan . pembicaraan yang memang sudah sepantasnya . pembicaraan mengenai tiga ratus enam puluh lima hari mendatang yang sedang menunggu dengan sangat sombong . pembeciraan mengenai apa yang dikatakannya sebagai 'perasaan' .

perjalanan para pengecut berandal ini juga masih terus berlangsung. melewati kemayoran . dan sesampainya di rumah ilmu itu , mungkin sekitar pukul lima pagi !!!

till now , i'm still couldn't beleive what i've been done . hahahahahaha .


cempaka putih - manggarai - taman lawang - suropati - salemba - ancol - kemayoran - cempaka putih . dengan durasi sekitar delapan jam .

[17 Maret 2009 21.49 ~ 17 Maret 2008 05.15]