Jumat, Juli 31

Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker

Pandi[r]; a monologue of the Mindtalker

oleh: fauzanFADLI

Haha, lucu sekali ketika melihat mereka semua tertawa riang. Begitu lepas menertawakan kecerobohanku, jatuh tersandung karena tali sepatuku sendiri. Entah kenapa sebelumnya aku tidak pernah merasa semarah ini kepada mereka semua. Kepada mereka yang selalu saja mengejek dan menertawakanku semau mereka. Kali ini terasa berbeda.

Sejak merasakan indahnya dunia, aku tinggal di kota ini. Cuma kota Jakarta. Memang pada dasarnya tidak ada keinginan untuk jauh dari kota ini. Dan sejak sembilan belas tahun lalu pula mama dan papaku memanggilku Pandi.

Dengan tidak sedikitpun niat untuk kufur ni’mat atas apa yang telah aku miliki, tapi aku selalu merasa nama ini agak sedikit mengganggu hidupku. Terdengar aneh dan sorry to say agak sial. Tapi biarlah, nikmati saja. Huu.

Pernah suatu hari, saat kelas tiga sekolah dasar dulu, aku menemukan sebuah kata yang sangat dan terasa begitu dalam mengusik hati dan pikiranku, pandir. Ya, kata pander, yang menurut guru bahasa Indonesiaku dulu dan tentu saja beliau telah mengeceknya terlebih dahulu di kamus besar bahasa Indonesia terbitan balai pustaka tahun 1977 itu, pandir sama dengan S-T-U-P-I-D.

Sejak saat itulah, aku merasa begitu sial dalam hidup. Huh! Pokoknya apapun yang kulakukan selalu saja menjadi hal aneh dan bahan celaan oleh orang-orang sekitarku. Bahkan pernah ada seorng teman yang aku masih ingat betul nama dan bentuk mukanya sampai helai-helai rambut yang menutupi dahinya itu, ia datang dan membelaku. Tapi, ia melakukannya dengan tawa licik dan menjijikkan. Aku sungguh sudah tahu apa yang akan dilakukannya terhadap diriku ini, si Pandi ini. Ia akan mengejekku sedetik kemudian setelah ia membelaku dengan palsu. Cuih. Benar saja. Ingin rasanya kumakan kedua bola matanya saat itu juga!

Sebenarnya juga, aku bukanlah tipe orang yang bodoh-bodoh amat. Malahan bisa dikategorikan dan klasifikasikan serta terdefinisi dengan empiris bahwa aku ini pintar, hmm, bukan, bukan pintar, tapi cerdas dan beruntung! Itu saja.

Dari taman kanak-kanak, aku selalu mendapat apa yang disebut dengan penghargaan. Prestasi, atau piala, atau piagam, atau apalah namanya. Guru-guruku juga mengakuinya, walaupun sedikit ’aneh’ dan pendiam, Pandi adalah anak yang berbakat dan beruntung begitulah yang bisa kusimpulkan dari pidato singkat guru-guruku ketika pembagian raport. Hehe. Terlepas dari apa saja yang teman-temanku lakukan terhadapku tentu saja.

Dan aku pun menyadarinya, bahwa aku adalah orang yang cerdas, beruntung dan intuitif. Sejak kecil. Walaupun namaku bisa saja diplesetin jadi kata yang bermakna s-t-u-p-i-d, aku tetap percaya diri dan yakin akan apa yang aku lakukan. Itu saja mungkin, yakin dan lakukan. Hehe.

Tahun-tahun kuliahku adalah tahun terberat dalam hidupku selama sembilan belas tahun ini. Aku masih dapat menerima dan mengacuhkan apa yang teman-teman SD, SMP dan SMA ku yang mengejek dan menghina kelakuanku yang menurutku biasa saja, tapi ketika masuk ke dunia perguruan tinggi, aku merasa ada hal berbeda dari namaku ini. Pandi. Tidak lagi terdengar aneh, tapi seperti ada sesuatu di dalamnya. Ada makhluk raksasa yang bergejolak tepat di bawah hurup-hurup P, A, N, D, dan I. Dan bukan juga karena kata-kata pandir yang dulu pernah kutemukan dan membuatku menjadi pandir dalam arti sesungguhnya. Entah apa yang ada di dalamnya, tapi seiring tahun ke sembilan belas dalam hidupku ini, menjelang tahun ke dua puluh dimana aku tidak lagi bisa masuk dalam kategori teenager, aku semakin yakin akan apa yang kurasakan, yang aku intuisikan bahkan yang aku imajinasikan adalah bukan sebuah kebetulan belaka. Karena si Pandi kah? Atau hanya perasaanku saja yang selalu percaya dengan apa yang kupercayai sendiri?

Sampai pada saat aku berjalan, melewati seorang pegawai biasa, mungkin pegawai rendahan; karena kemeja yang dikenakannya hanya kemeja biru muda polos berlengan pendek dengan celana yang sedikit kebesaran. Lebih tepatnya aku berjalan dan duduk di sebelahnya. Begitu aneh rasanya jika tidak bergumam atau paling tidak berkomentar melihat tampang orang ini. Dengan headset yang terpasang dengan volume maksimal di kedua telingaku, mustahil bagiku untuk mendengar apapun disekelilingku, apapun yang orang-orang itu lihat dan katakan ketika melihatku bergumam sendiri; semoga mereka mengira aku sedang menerima telepon. Tapi siapa peduli. Toh, orang-orang Jakarta sudah mulai terjangkit wabah apatisme; selain virus babi sialan itu tentu saja. Oke, kembali lagi ke orang yang ada di sampingku ini. Dengan anugerah wajah yang tidak memalukan, kenapa orang ini hanya mampu menjadi pegawai biasa; rendahan mungkin. Entahlah, mungkin saja Allah memang adil dalam mencipta segala keinginan-nya. Hehe. Setelah kuterima asumsi bahwa Allah memang selalu adil, sesaat kemudian aku ikut terjangkit aura apatisme dari orang-orang sekitarku. Tanpa dosa, mataku terlelap. Begitu nyaman.

Masih dengan alunan radio kesukaan di telinga ini, dan langkah-langkahku yang meyakinkan, setapak demi setapak menginjak lantai alumunium halte bis yang mulai berantakan. Di atas jembatan layang aku meratapi betapa nikmatnya hidup ini. Coba lihat di bawah sana! Banyak orang yang bisa dibilang sedang berperang dengan kekayaan jalan, maksudnya, kekayaan akan kendaraan yang membuat jalan terlhat begitu penuh dari atas sini. Memang dilihat sekilas dari luar, nampak elegan dan mengasyikkan duduk di belakang kemudi berbandrol ratusan juta itu, tapi, what the hell do i do now? Meratapi senang melihat kemacetan? It’s a big no no.

Tanpa rasa marah sedikitpun aku masuk ke dalam lingkungan kampus pilihan ayahku ini. Pastinya setelah satu setengah jam di dalam bis dan lima belas menit menikmati jalan dengan sepatuku ini. Gerbang biru dan satpam yang sok atau mungkin memang ramah padaku; padahal aku sama sekali tidak mengenalnya, menyapa dengan senyum simpul mengerikan. Huooh, kantuk ini masih saja singgah di kedua bola mataku, padahal sudah kepejamkan tadi sesaat di bis.

Hari ini ada ujian mata kuliah seorang dosen super cerdas. Lucu juga sih , ikut di kelasnya. Saking cerdasnya dosen itu, ia berhasil membuatku takut setengah mati saat mendengan suaranya saja. Hihi. Sejak semester satu lalu, si super cerdas menakutkan itu selalu memberiku C di kelasnya. It’s ok. Dengan sisa waktu kurang dari lima belas menit sebelum si pengawas ujian yang tukang tidur itu membagikan kertas soal, kusempatkan diriku untuk melihat-lihat sedikit catatanku yang kusut. Bolak-balik halaman demi halaman dan kugumamkan perlahan, ya, hanya digumamkan dan berharap gumamanku itu nyangkut di otakku yang kosong ini. Kata mama, ujian itu seperti berjudi, kalau berjudi tidak membawa modal sama sekali, apa yang mau dipertaruhkan? Aku memutuskan untuk bertaruh sedikit saja, karena alasan malas dan beberapa pertimbangan lain, dan tentu saja disertai dengan doa dan harapan akan keberuntungan dari-nya (tidak lupa usaha mencari sumbangan kanan-kiri).

Pandi !!! Si pengawas tukang tidur itu menyebutkan nama yang sudah kukenal sejak aku menghirup udara dunia ini. Rasanya seperti makan waffle cokelat yang suda melempem, agak khawatir. Huff, ternyata aku salah menandatangani absen ujian. Hehe. Si pengawas geram melihat tingkahku yang memang menyebalkan, aku maju dan cengengesan di depan mukanya. Haha.

Ujian berlangsung singkat. Hiperbola dan ironi yang kugabungkan dalam kalimat sebelum ini.

Oh dosen-dosenku, lihat apa yang bisa kalian berikan untuk si pandi.

Dan tidak sama persis dengan situasi yang terjadi di sinema asal korea itu; boys before flowers. Dengan aktor-aktor kaya-raya dan hidupnya sudah sangat membosaknkan sampai-sampai hanya bisa menjahili teman mereka yang misikin dan muram durja itu. Tidak sesadis itu. Apa yang terjadi padaku paling tidak, lebih manusiawi daripada apa yang diceritakan dalam sinema itu.

Aku tidak mencoba untuk menjadi kuat sekalipun, aku hanya mengikuti apa yang aku suka sebut dengan istilah intuisi. Apapun yang teman-teman kampusku lakukan terhadapku, alhamdulillah aku masih menganggap mereka semua sebagai teman. Seharusnya malah tidak! Kalau saja aku menanggapi setiap celaan dan ‘candaan’ dari mulut-mulut mereka. Pernah suatu hari setelah kelas baru saja selesai, aku dijahili habis-habisan oleh seisi kelas. Mereka semua mengataiku dengan sindiran-sindiran halus dan menjodohkanku dengan mahasiswi terjelek sepanjang masa. Bayangkan saja, apa yang bisa kulakukan? Setelah tidak kuat unutk bergeming saja, aku cuma dapat bilang, biarin aja sampe puas. Kata-kataku itu malah membuat mereka semua; termasuk para senior yang ada di situ, mencemoohku. Sudahlah, dalam kejadian itu aku bergumam lagi, sembari berpikir, apa lagi setelah ini.

Pernah suatu ketika kemarahanku memuncak. Aku bergeming dan bergumam, okay, after I’m finishing my bachelor here, I do promise you; all of you, that you won’t see me again!!! Even in your dream!

Tunggu saja sampai apa yang bisa kubukutikan atas diriku ini pada kaian semua. Pada saat kalian bersua denganku dan aku dengan sengaja tidak mempedulikan kehadiran kalian. Itu! Itu adalah kemarahan terbesar yang pernah aku, seorang pandi, rasakan selama hidupnya. Dan berangkat dari situlah, kemudian kadar kedewasaan muncul. Walaupun tetap saja teman-temanku itu beranggapan aku ini memang pandir.

Bodoh, bodoh, aneh, dan menggelikan. Itu sementara yang bisa kuutangkap dari pandangan dan ocehan teman-temanku. Karena itu juga aku lebih senang berdiam dan menikmati sepi. Hihi. Memang secara normal, apa yang kusukai ini agak sedikit diluar kebiasaan, tapi menurutku ini adalah representasi dari apa yang justru mereka semua lakukan padaku. Ketika mereka menggunjingku dari belakang, aku tahu itu. Abku bahkan tahu apa yang mereka impikan tentang diriku. Aku juga tidak berusaha mengenyakkan diriku dengan mereka semua, teman-teman satu kampusku itu. Hanya ada aku dan duniaku. Cukup.

Tak mengerti aku dibilang begini-begitu, ada salah seornag temanku yang aku nilai sangat kejam padaku. Yang hanya bisa ia lakukan adalah melihatku dengan pandangannya yang munafik itu lalu menyapaku dengan ramah-tamah berlebihan yang dibuat-buat. Dia sebenarnya sangat iri padaku, sangat iri, terlalu iri untuk diungkapkan dan diekspersikan dengan cara apapun, jadi dia memilih untuk membenci diriku saja sebagai representasi dari rasa iri hatinya terhapadku. Aku tahu itu, aku tahu apa yang kurasakan itu benar, benar kalau ia iri setengah mati kepadaku. Aku juga tahu apa yang aku suka adalah bergumam dan berkomentar akan hal-hal yang terjadi, cuma berkomentar dalam hati dan melakukan monolog-monolog panjang sendiri tentu saja.

Dengan memperhatikan, rasa yang dihasilkan akan lebih dalam dan sensitif. Dengan begitu, walaupun mereka, teman-temanku sudah memberiku stampel pandir atas nama pandi yang kusandang, aku menjadi biasa saja.

Biasa menikmatinya.

Melihat dari sudut pandang orang yang tersendirikan situasi dan melakukan berjuta monolog setiap hari adalah sebuah kuliah pribadi yang aneh dan mengasyikkan.

Terlalu banyak kejadian yang terjadi dihadapanku yang aku sendiri bingung menaggapinya. Saat sebenarnya aku hanya bergumam dalam hati, hanya bergumam; walaupun kadang memang dengan gumaman yang sungguh-sungguh. Apa yang akau pikirkan, aku lakukan monolognya sendiri, itu semua terjadi begitu saja.

Pernah suatu hari, aku secara tidak sengaja, atau di bawah alam sadar, membaca dan mengikuti beberapa quiz tentang nasib di internet. Cukup menyenangkan. Tapi guess what? Hasil dari ketiga ramalan itu sama, begini isinya; kamu akan mendapatkan semua apapun yang kamu inginkan. Haha. Pandi, pandi, betapa beruntungnya kamu. Oh, thank God, I am Pandi.

The Mindtalker;


Jumat, April 10

lift your hands to Indonesia !

Angkat Tanganmu untuk Indonesia!

oleh Fauzan Fadli

dibuat sebagai salah satu syarat dalam seleksi Pemilihan Duta Muda ASEAN 2009 

 

“Angkat tanganmu untuk Indonesia…angkat tanganmu untuk Indonesia”. Itulah sepenggal lirik lagu yang diciptakan dan dinyanyikan langsung oleh salah seorang penyiar radio dan presenter, Pandji Pragiwaksono. Lagu bergenre rap hip-hop yang terdengar begitu ringan dan dibawakan dalam bahasa ‘rakyat’ yang membumi itu, di dalamnya berisi tentang bagaimana kita sebagai seorang warga negara yang belum mampu berbuat banyak untuk negara tercinta ini. Kemudian dalam lagu ini juga terdapat kritik-kritik yang memang terjadi dan menjadi realita sekarang ini. Sebuah realita yang seharusnya mengusik hati setiap warga negara yang mendengarnya.

 Ketika ada pertanyaan, apa yang telah kamu perbuat untuk Bangsamu? Belum lagi jika disinggung tentang perjuangan pahlawan yang rela berkorban untuk kemerdekaan generasi berikutnya. Jangan tanya apa yang negara telah beri untuk kita, tetapi seharusnya, apa yang telah kita perbuat untuk Negara ini? Ini bukan masalah nasionalisme atau apapun itu istilahnya, namun ini semua lebih cocok dikatakan sebagai sebuah jawaban atas realita yeng terjadi sekarang. Sebuah realita yang sangat kontras dengan perjuangan menuju kemerdekaan, sebuah realita yang membuat kita semua menjadi begitu individualis.

 Indonesia sebagai sebuah negara besar dengan sekian banyak budaya di dalamnya dan sekaligus sebagai salah satu dari warga dunia dalam konteks global ataupun merupakan salah satu negara dari Assoiciation of South-East Asian Nations (ASEAN) dalam cakupan regional, memiliki peran besar dalam menentukan orientasi perkembangan dunia. Dalam ruang lingkup regional seperti ASEAN, tentu saja Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peran signifikan. Sebuah peran yang ke depannya akan di representasikan oleh kaum muda Indonesia yang tangguh dan bertanggungjawab.

 

Indonesia kini memang masih dikategorikan sebagai Negara berkembang (Developed Country), namun dengan populasi besar yang dimilki Indonesia dan dengan jumlah kaum muda dalam hal ini angkatan kerja yang banyak pula, Indonesia diyakini sepuluh tahun ke depan akan memiliki peran jauh lebih besar dalam kancah perkembangan dunia pada umumnya. Secara matematis Indonesia memang memiliki angka kematian dan kelahiran yang besar, berlawanan dengan pertunbuhan jumlah penduduk di negara-negara maju yang relatif warga negaranya berumur panjang dan memilki angka kelahiran yang rendah. Namun hal inilah yang justru akan membuka peluang kaum muda Indonesia untuk mendapat peran lebih besar lagi dalam rangka ikut serta aktif dalam perputaran roda perekonomian dunia.

 

Kaum muda Indonesia yang tangguh dan bertanggungjawab serta dinilai ramah oleh negara-negara lain, lima atau sepuluh tahu mendatang akan memegang banyak sekali peran di berbagai bidang, baik dalam ruang lingkup regional seperti ASEAN maupun global. Potensi kekayaan pangan Indonesia yang melimpah, letak geografis, serta potensi sumber daya manusia yang menjanjikan, membuat Indonesia, khususnya kaum muda Indonesia, menjadi subjek aktif yang bukannya tidak mungkin akan merajai perputaran perekonomian regional dan global.

 Jika diperhitungkan secara logika saja, nantinya lima atau sepuluh tahun mendatang, ketika negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat ataupun Singapura, dengan angka kelahiran dan kematian yang rendah, nantinya akan kekurangan sumber daya manusia yang produktif – dalam hal ini tentu saja kaum muda, untuk mengisi berbagai profesi, keperluan dan kebutuhan mereka. Pada saat itulah, Indonesia yang memiliki angka kelahiran yang tinggi akan berkesempatan untuk menguasai perputaran perekonomian dunia dengan sumber daya manusia yang masih produktif (kaum muda) yang dimiliki untuk mengambil peran lebih jauh lagi.

 Sebuah prediksi yang tidak berlebihan dan masuk akal tentunya. Kaum muda Indonesia akan mendapat kesempatan yang jauh lebih besar dalam hal keikutsertaan dan berperan aktif lima atau sepuluh tahun mendatang untuk kemajuan teknologi dan ekonomi ASEAN secara regional dan dunia dalam ruang lingkup global.

 Sekarang yang menjadi PR terbesar kita, kaum muda Indonesia, adalah bagaimana kita semua mampu mengembangkan diri secara positif. Melakukan hal-hal membangun untuk kemajuan negara tercinta secara khusus dan kemudian siap memberikan kontribusi yang lebih besar lagi untuk masyarakat dunia.

 Jadi, Angkat tanganmu untuk Indonesia !

Sabtu, Maret 21

coba aahhhh


AM I WRY ???????

anak SMA di busway .... bikin kangen

hahahah . ernak banget yeh liat anak SMA yang bercanda dengan sangat lepas . begitu lepas . ditempat umum seperti di dalam busway yang memang ambience-nya selalu sepi . individualis . yaah , memang sebagai warga jakarta yang baik [dan memang belum punya kendaraan pribadi; yang layak] , busway memang menjadi andalan guw kemana-mana . hahahaha .

pagi itu , guw berangkat jam setengah tujuh . naik busway terbaru a.k.a koridor delapan . dari shelter RS. Medika Permata hijau , ga lama kok . terus turun di grogol dua . dari grogol itulah , satu kompi anak SMA berseragam putih abu-abu , anak tar-q [tarakanita] , guw liat di kantongnya .

mreka rame banget . tapi guw pribadi si merasa ga terganggu , ngga banget . malah menikmati . heheheh . seru aja liatnya . ada yang becanda tanpa beban , ada yang lagi ngafalin biologi , ada yang lagi maen psp . haduuuh .

KANGEN SMA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Selasa, Maret 17

cempaka putih - taman lawang - ancol - kemayoran


pertama-tama adalah sebuah wacana hampa yang tidak tahu harus terlaksana atau tidak . kemudian setelah proses pemilihan yang terlalu didramatisasi berakhir , dilanjutkan dengan perang air . kemudian wacana tersebut menjadi sebuah kenyataan yang sangat insidental .

kawasan kota tua . museum fatahillah . awalnya di sanalah takdir bermaksud mempersuakan kami . pada dasarnya kami yang dimaksud di sini juga belumlah jelas . siapa ???
namun kemudian , setalah drama itu semua . akirnya hadirlah sepuluh manusia yang diproklamasikan sebagai manusia yang paling tidak menghargai hidup , manusia yang [mungkin] sedang sakit jiwa , manusia-manusia yang sepertinya begitu memiliki waktu luang , maksudnya sudah benar-benar tidak ada hal lain lagi yang lebih pantas untuk dikerjakan .

berangkat pukul sepuluh malam . setelah menunaikan yang empat rakaat . padahal sebelumnya , tujuannya adalah langsung ke pantai itu , tapi sebelum , motor2 itu meraung-raung , salah satu dari kami bersepuluh , berwacana . transit ke taman lawang kemungkinannya akan menjadi dahsyat . seru . hahahaha . cuma tawa ringan yang terdengar . tawa ringan pertanda setuju . akhirnyalah . melalui manggarai , sudirman , kemudian taman lawang yang penuh dengan 'bunga-bunga' malam yang TAMPAK lebih aduhai dari mereka yang asli . sangat seru !!! dan akhirnya setelah puas menikmati pemandangan itu , berputar di suropati . kemudian keluar di salemba , meneruskan langsung ke arah ancol . ya ! pantai itu . di sanalah . haah , helaan napas setengah puas yang bersatu dengan sebuah semangat akan eksperimen akan hal-hal yang akan dilakukan .

begitu rumit rasanya .

di sana . di balik panggung itu . nantinya akan menjadi sebuah lagu mimpi untuk mereka , untuk kami . menikmati alunan , lagu dan irama dari mereka yang merasa bersuara syahdu . begitu menyenangkan rasanya . dengan suasana baru , yang sangat segar . suasana baru setelah mendapati kekuasaan yang semua orang tahu kalau memang sangat diinginkannya . hahahaha . kenudian , di dermaga yang katanya angin di sana berhembus dengan damai itu , beberapa gambar terabadikan dengan setengah sempurna . tengah malam , ya ! waktu itu tengah malam yang cerah . bayangkan saja , begitu jarang rasanya bintang-bintang dan bulang terintegrasi menjadi satu pada langit yang sama di atap langit jakarta yang telah kelabu dengan asap ?? helaan napas lain berhembus .

alunan musik dan suara-suara otak kami pun megalir begitu saja . mengalir seperti apa yang emmang telah direncanakan . pembicaraan yang memang sudah sepantasnya . pembicaraan mengenai tiga ratus enam puluh lima hari mendatang yang sedang menunggu dengan sangat sombong . pembeciraan mengenai apa yang dikatakannya sebagai 'perasaan' .

perjalanan para pengecut berandal ini juga masih terus berlangsung. melewati kemayoran . dan sesampainya di rumah ilmu itu , mungkin sekitar pukul lima pagi !!!

till now , i'm still couldn't beleive what i've been done . hahahahahaha .


cempaka putih - manggarai - taman lawang - suropati - salemba - ancol - kemayoran - cempaka putih . dengan durasi sekitar delapan jam .

[17 Maret 2009 21.49 ~ 17 Maret 2008 05.15]

Minggu, Maret 8

hogwarts in the match .

Sekolah Harry Potter dari 602 Ribu Batang Korek Api

Miniatur Hogwarts
Miniatur Hogwarts
Seorang pria asal Iowa, Amerika Serikat membuat miniatur Hogwarts, sekolah Harry Potter dengan detil yang mencengangkan menggunakan 602 ribu batang korek api!

Pat Acton membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk menyelesaikan bangunan mini yang sama persis dengan yang terlihat di film 'Harry Potter' itu.

"Saya sangat suka bukunya dan menyebut diri saya sebagai fans Harry Potter." -Pat Acton-

Setelah menyelesaikan Hogwarts, pria berusia 55 tahun itu kini tengah membuat kota benteng the Minas Tirith, seperti yang ada dalam trilogi 'Lord of the Rings'.

"Akan ada ratusan gedung dalam miniatur the Minas Tirith. Dimensinya akan sepanjang 3 meter dengan lebar 2,7 meter. Dan bangunan terbesarnya setinggi 2,1 meter," lanjut Pat.

Kamis, Maret 5

Perguruan Tinggi and its challenges

Melalui dharma pendidikan perguruan tinggi harus mampu memberdayakan proses pendidikan yang sedemikian rupa agar seluruh mahasiswanya berkembang menjadi lulusan sebagai sumber daya manusia berkualitas yang memiliki kompetensi paripurna secara intelektual, profesional, sosial, moral dan personal. Dharma kedua yaitu penelitian, perguruan tinggi harus mampu mewujudkan sebagai satu institusi ilmiah akademik yang daapt menghasilkan berbagai temuan inovatif melalui kegiatan-kegiatan penelitian. Melalui penelitian ini perguruan tinggi dapat mengembangkan dirinya serta memberikan sumbangan nyata bagi pengembangan bidang keilmuan dan aplikasi dalam berbagai upaya pembaharuan. Selanjutnya melalui dharma ketiga yaitu pengabdian keberadaan perguruan tinggi harus dapat dirasakan manfaatnya bagi kemajuan masyarakat. Hal ini mengadnung makna bahwa keberadaan perguruan tinggi harus dirasakan oleh masyarakat disekitarnya dengan memberikan pemahaman kepada masyaraat sesuai dengan bidangnya.

Tantangan global
Pesatnya perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu ciri utama perkembangan global di abad 21. Siap atau tidak siap hal itu merupakan satu realitas yang harus dihadapi dengan kualitas sumber daya manusia dengan daya saing unggul. Menghadapi berbagai perubahan di era globalisasi diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kualitas keberdayaan yang lebih efektif agar mampu mengatasi berbagai tantangan yang timbul.
Dalam era globalisasi setiap orang dituntut untuk mampu mengatasi berbagai masalah yang kompleks sebagai akibat pengaruh perubahan global. Menurut Marquardt (1996) memasuki Abad ke-21 ada empat kecenderungan perubahan yang akan mempengaruhi pola-pola kehidupan yaitu; 1.) perubahan lingkungan ekonomi, sosial dan pengetahuan dan teknologi 2.) perubahan dalam lingkungan kerja, 3.) perubahan dalam harapan pelanggan 4.) perubahan harapan para pekerja.
Pada tatanan global seluruh umat manusia di dunia dihadapkan pada tantangan yang bersumber dari perkembangan global sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu 1.) kecepatan (speed), 2.) kenyamanan (convinience), 3.) gelombang generasi (age wave), 4.) pilihan (choice), 5.) ragam gaya hidup (life style) 6.) kompetisi harga (discounting), 7.) pertambahan nilai (value added) 8.) pelayanan pelanggan (customer service), 9.) teknologi sebagai andalan (techno age), 10.) jaminan mutu (quality control).
Memasuki era baru di abad 21 sistem pendidikan tinggi di Indoensia harus terwujud sedemikian rupa dengan karakteristik antara lain; 1) terkait dengan kebutuhan mahasiswa, prioritas nasional dan pembangunan ekonomi, 2) terstruktur secara efektif sehingga memberi peluang kepada seluruh warga negara untuk mengembangkan potensi pribadi sepanjang hayat dan berkontribusi kepada masyarakat, bangsa dan negara, 3) didukung dengan pendanaan yang memadai sehingga memungkinkan untuk berinovasi dan mencapai keunggulan, 4) melakukan penelitian yang dapat menunjang pembangunan nasional, 5) memiliki akses dalam pengembangan dan penerapan teknologi, 6) berperan sebagai kekuatan moral dalam mewujudkan masyarakat demokratis yang madani. Dengan demikian, perguruan tinggi harus memiliki kredibilitas institusional secara utuh dan menyeluruh. Sistem ini harus memiliki akuntabilitas yang tinggi terhadap masyarakat, menunjukkan efisiensi dalam operasionalnya, menghasilkan lulusan yang berkualitas, memiliki manajemen internal yang transparan dan memenuhi standar.

Pendidikan Guru dan tenaga Kependidikan
Berbicara menegnai pendidikan, tidak dapat dilepaskan dengan aspek guru sebagai unsur inti pendidikan. Kualitas sumber daya manusia yang diharapkan mampu bersaing di era global sangat ditentukan oleh kualitas guru yang berada di garda terdepan pendidikan. Pada tatanan global dan nasional, dunia pendidikan ditantang dengan berbagai upaya pembaharuan dan pembangunan yang lebih berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.
Lahirnya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan berbagai produk ketentuan hukum lainnya merupakan satu tantangan yang harus dihadapi oleh Perguruan Tinggi khsusnya LPTK yang mempunyai tanggung jawab dalam menghasilkan guru yang berkualitas. Pada tatanan lokal dengan penerapan otonomi daerah, setiap daerah mempunyai peluang untuk menata pengembangan tenaga guru yang lebih berkualitas dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan daerah.
Berkaitan dengan masalah dan kendala di dunia guru, cukup banyak kritikan tajam yang ditujukan kepada LPTK khsusnya yang berkenaan dengan ketidak mampuan LPTK menghasilkan guru yang berkualitas. Menurut Linda Daeling Hammond dan Joan Baratz Snouwden (2007) dalam tulisannya yang berjudul : Good Teacher in Every Classroom Preparing the High Qualified Teachers Our Children Deserve” ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi. Yaitu 1) pemerintah dan masyarakat belum menunjukkan keseriusannya dalam menangani hak-hak anak terutama dari kelompok miskin, 2) penyempitan makna konvensional yang menyatakan bahwa pengajaran semata-mata sebagai proses penyampaian materi sebagaimana digariskan dalam kurikulum, 3) banyak pihak yang tidak memahami hakekat mengajar yang sebanarnya 4) hampir semua meyakini bahwa yang penting adalah pengajaran dan bukan pembelajaran dari peserta didik 5) masih longgarnya tuntutan persyaratan untuk menjadi guru yang berkualitas 6) para penelitia dan pendidik guru baru sampai pada kesepakatan mengenai pengetauhan dasar yang diperlukan oleh guru untuk memasuki kelas. Pendidikan guru di masa lalu dan hingga sekarang sering dikritik terlalu sempit yang dibatasi dengan mempersiapkan pengetahuan yang akan diajarkan dikelas. Sementara kurang memperhatikan hal-hal yang terkait dengan pemahaman mengenai peserta didik, pengembangan profesi, pembentukan kepribadian, dan landasan pedagogis. Sebagai akibatnya ialah guru hanya mampu tampil sebagai penyampai pengetahuan dan tidak tampil sebagai guru profesional sebagaimana dituntut oleh Undang-undang Guru dan Dosen.

Pengembangan LPTK
Dengan memperhatikan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa LPTK menghadapi masalah dan tantangan eksternal yang berkaitan erat dengan globalisasi, pembangunan ekonomi, desentralisasi, situasi politik, perkembangan sosial budaya dan teknologi. Sementara itu kenyataan obyektif secara internal LPTK di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dan masalah yang bersumber dari pola-pola menajemen yang sntralistik, mekanisme pendanaan yang sentralistik dan kaku, organisasi dan manajemen yang kuang efisien, kualitas sumber daya manusia yang kurang memadai dan belum optimalnya partisipasi masyarakat dalam pendanaan pendidikan. Semua masalah itu memerlukan penanganan secara nsional, sistematik dan terpadu
Sehubungan dengan itu antisipasi pengembangan dan kinerja LPTK khususnya LPTK swasta, merupakan satu hal yang harus diwujudkan demi kelestarian dalam menghadapi gelombang tantangan dalam tatanan global, nasional, regional, lokal dan organisasional. Hal ini mengandung makna bahwa pengembangan LPTK (terutama swasta termasuk LPTK PGRI) merupakan satu keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi agar menjadi lembaga pendidikan yang lestari dan bermutu.
Pengembangan LPTK PGRI sekurang-kurangnya mencakup aspek sturktur, kultur, substansi, dan SDM. Dalam aspek struktur perlu dikaji struktur kelembagaan LPTK PGRI termasuk hubungan struktural dan fungsional antar lembaga pendidikan, dengan pemerintah pusat (pusat dan daerah), khususnya Departemen Pendidikan Nasional/ Dinas Pendidikanm dengan Yayasan dan pihak-pihak terkait lainnya sehingga diperoleh satu struktur yang menunjang eksistensinya.
Dalam aspek kultur, perlu dilakukan pola-pola budaya yang sedemikian rupa dapat menunjang berkembangnya Lembaga Pendidikan Tinggi yang bercorak khas sebagai cerminan jatidiri, visi, misi dan strategi PGRI. Budaya birokratis dan feodal harus bergeser ke budaya “pedagogis” yang demokratis dalam suasana nilai-nilai kejuangan guru. Budaya komunikasi satu arah yang “top down” harus digeser menjadi budaya komunikasi dua arah dan “bottom up”, Budaya pengaturan yang sentrarilstik ke budaya pemberdayaan dan desentralistik yang otonom. Bagaimanapun perguruan tinggi PGRI itu merupakan aktualisasi kultur pendidikan, sehingga paradigma pendidikan harus menjadi landasan utama dalam perwujudan kinerjanya melalui aktualisasi tridharma perguruan tinggi.